Tidur Berkelompok, Tradisi Kuno yang Masih Bertahan di Suku Afrika dan Amazon
Last updated: 16 Nov 2025
128 Views

Di era modern, tidur identik dengan ruang pribadi, kasur empuk, dan kamar tertutup. Namun di beberapa pelosok dunia, terutama di Afrika dan hutan Amazon, masih ada komunitas yang memegang teguh cara tidur paling purba: tidur berkelompok di ruang terbuka. Suku-suku seperti Hadza di Tanzania, BaYaka di Republik Kongo, dan Yanomami di pedalaman Amazon diketahui masih menjaga kebiasaan tidur bersama dalam satu pondok atau di sekitar api unggun. Tradisi ini diwariskan selama ribuan tahun, jauh sebelum manusia mengenal rumah modern.
Penelitian dari Universitas Duke yang dimuat dalam jurnal Current Biology pada 2017 menemukan bahwa anggota suku Hadza memiliki pola tidur bergiliran secara alami. Sepanjang malam, selalu ada setidaknya satu orang yang tetap terjaga tanpa ada jadwal resmi. Fenomena ini disebut sebagai sentinel sleep hypothesis atau hipotesis penjaga malam. Pola ini dipercaya membantu kelompok bertahan hidup dari ancaman hewan buas dan suku lain di alam liar.
Setiap malam, masyarakat Hadza dan BaYaka tidur melingkar mengelilingi api unggun. Anak-anak dan perempuan biasanya berada di tengah, sementara laki-laki dewasa tidur di bagian luar lingkaran untuk berjaga. Selain menjaga keamanan, tidur berkelompok juga menciptakan ikatan emosional dan sosial yang kuat. Sebelum tidur, mereka sering bercerita, bernyanyi, atau berbagi pengalaman hari ituritual sederhana yang mempererat hubungan antaranggota suku. Tidur bukan hanya soal istirahat. Ini tentang kebersamaan dan rasa percaya, ujar James McKenna, antropolog tidur dari University of Notre Dame, dalam wawancara dengan BBC Future. Menurutnya, manusia modern sejatinya masih membawa naluri sosial ini, meski kini hidup di lingkungan yang lebih individualistik.
Kehidupan di hutan dan savana membuat mereka terbiasa tidur di tanah beralaskan daun atau kulit hewan dengan tubuh dilindungi oleh asap api unggun. Tidur mereka tidak panjang seperti manusia modern, melainkan dalam beberapa fase pendek sepanjang malam. Para peneliti menemukan bahwa total jam tidur mereka rata-rata hanya 5,7 jam per malam, namun kualitasnya tetap tinggi karena tubuh mereka mengikuti ritme alami alamtidur ketika gelap total dan bangun saat fajar pertama muncul.
Kebiasaan tidur berkelompok ini dianggap sebagai sisa dari perilaku evolusi manusia purba. Manusia awal kemungkinan besar selalu tidur bersama dalam gua atau padang terbuka sebagai strategi bertahan hidup. Kini, pola tidur semacam itu hanya tersisa di beberapa komunitas tradisional, menjadi jendela hidup untuk memahami cara hidup manusia ribuan tahun lalu. Meski manusia modern kini tidur sendiri di kamar, naluri untuk merasa aman tetap tersisa. Banyak orang yang tidak bisa tidur tanpa pasangan, anak, atau hewan peliharaan di dekatnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa naluri sosial dalam tidur belum sepenuhnya hilang.
Tradisi tidur berkelompok di Afrika dan Amazon bukan sekadar kebiasaan lama, tetapi warisan budaya dan strategi bertahan hidup yang berakar dalam jiwa manusia. Di tengah dunia modern yang serba individualis, mungkin ada pelajaran sederhana yang bisa diambil: bahwa tidur yang tenang bukan hanya soal tempat, melainkan soal rasa aman dan kebersamaan. *
Related Content
Albert Einstein dikenal sebagai ilmuwan jenius yang mengubah dunia lewat teori relativitasnya. Namun, sedikit yang tahu bahwa di balik kejeniusannya, Einstein punya kebiasaan tidur yang tidak biasa.
28 Nov 2025
Tidur adalah kebutuhan dasar manusia, tetapi bagi para tahanan kamp konsentrasi Nazi di masa Perang Dunia II, tidur menjadi kemewahan yang hampir mustahil.
24 Nov 2025
Di banyak negara, tertidur di tempat umum sering dianggap tidak sopan, tanda lelah berlebihan, atau bahkan malas. Namun di Jepang, fenomena ini justru memiliki makna berbeda.
21 Nov 2025



