Jejak Bom Nuklir pada Budaya Tidur Singkat Orang Jepang
Last updated: 26 Oct 2025
296 Views

Ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945, dunia menyaksikan kehancuran yang belum pernah ada sebelumnya. Puluhan ribu nyawa melayang seketika, dan dua kota berubah menjadi puing dalam hitungan detik. Namun, dampak peristiwa itu tidak berhenti pada kerusakan fisik semata. Trauma psikologis, tekanan sosial, dan tekad untuk bangkit membentuk ulang wajah peradaban Jepang, bahkan sampai ke hal-hal yang sederhana namun penting: cara orang Jepang tidur.
Para penyintas bom, yang dikenal sebagai hibakusha, membawa luka batin yang dalam. Banyak dari mereka mengalami kesulitan tidur, dihantui mimpi buruk, dan ketakutan akan masa depan. Generasi berikutnya tumbuh dengan cerita itu, mewarisi semacam kesadaran kolektif bahwa hidup bisa berakhir dalam sekejap. Dari sinilah muncul semangat luar biasa untuk bekerja, membangun kembali negeri, dan memastikan tragedi serupa tidak terulang.
Tekanan membangun Jepang dari reruntuhan memicu budaya kerja keras yang ekstrem. Jam kerja panjang menjadi norma, dan tidur dianggap sebagai sesuatu yang bisa dikorbankan demi produktivitas. Dari konteks ini lahir fenomena inemuri, yaitu kebiasaan tidur singkat di tempat umum, seperti di kereta, ruang rapat, atau bahkan kantor. Inemuri bukan tanda kemalasan, melainkan bukti dedikasi. Tidur sejenak di sela kesibukan dipandang sebagai cara menjaga stamina agar bisa terus berkontribusi.
Fenomena tidur singkat ini masih terasa hingga hari ini. Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan rata-rata jam tidur terendah di dunia. Budaya kerja keras, yang akarnya bisa ditarik dari semangat pascaperang, membentuk pola hidup yang menempatkan tanggung jawab di atas kenyamanan pribadi. Bom Hiroshima dan Nagasaki memang membawa penderitaan besar, tetapi dalam cara yang unik, juga ikut mendorong lahirnya budaya disiplin tinggi yang terlihat hingga kini, bahkan dalam kebiasaan tidur masyarakatnya.
Tragedi nuklir yang dulu menutup Perang Dunia II ternyata meninggalkan jejak panjang, bukan hanya dalam sejarah global, tetapi juga dalam keseharian orang Jepang. Dari trauma menuju ketangguhan, dari kehancuran menuju kebangkitan, hingga dari malam tanpa tidur menuju budaya inemuri, pola tidur singkat menjadi simbol kecil namun sarat makna tentang bagaimana bangsa Jepang menghadapi luka sejarah dengan cara yang khas: bekerja lebih keras, tidur lebih sedikit, dan terus melangkah maju.
Related Content
Albert Einstein dikenal sebagai ilmuwan jenius yang mengubah dunia lewat teori relativitasnya. Namun, sedikit yang tahu bahwa di balik kejeniusannya, Einstein punya kebiasaan tidur yang tidak biasa.
28 Nov 2025
Tidur adalah kebutuhan dasar manusia, tetapi bagi para tahanan kamp konsentrasi Nazi di masa Perang Dunia II, tidur menjadi kemewahan yang hampir mustahil.
24 Nov 2025
Di banyak negara, tertidur di tempat umum sering dianggap tidak sopan, tanda lelah berlebihan, atau bahkan malas. Namun di Jepang, fenomena ini justru memiliki makna berbeda.
21 Nov 2025



