Rekor Dunia 11 Hari Tanpa Tidur yang Hampir Menghancurkan Otak Manusia
Last updated: 19 Jan 2026
327 Views

Tahukah kamu bahwa ada manusia yang pernah tidak tidur selama sebelas hari penuh? Kisah luar biasa ini benar-benar terjadi pada tahun 1964, ketika seorang remaja bernama Randy Gardner asal San Diego, California, Amerika Serikat, mencatatkan dirinya dalam sejarah sebagai manusia dengan rekor dunia terlama tidak tidur. Dalam eksperimen yang berlangsung selama 11 hari 25 menit atau sekitar 264 jam, Gardner berusaha membuktikan seberapa lama manusia bisa bertahan tanpa tidur, namun hasilnya justru membuka mata dunia medis tentang betapa berbahayanya kekurangan tidur ekstrem.
Percobaan ini awalnya hanya merupakan proyek sains sekolah yang sederhana. Namun, rasa ingin tahu dan tekadnya menarik perhatian ilmuwan ternama seperti Dr. William C. Dement dari Stanford University dan Letnan Komandan John J. Ross dari Angkatan Laut AS, yang kemudian ikut memantau kondisi medisnya. Dalam beberapa hari pertama, Gardner masih tampak normal dan bisa berbicara serta bergerak seperti biasa. Tapi memasuki hari keempat, tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan parah. Ia mulai kehilangan fokus, emosinya tidak stabil, dan mengalami kesulitan berpikir jernih.
Pada hari ketujuh, efek kurang tidur mulai mengerikan. Randy mulai berhalusinasi, sulit berbicara dengan jelas, dan sering lupa dengan hal-hal sederhana yang baru saja ia lakukan. Saat mendekati akhir eksperimen, tubuhnya terlihat sangat lemah dan pikirannya kacau. Namun setelah eksperimen selesai, ia langsung tidur selama lebih dari 14 jam dan tidak mengalami kerusakan permanen. Walau begitu, para dokter yang meneliti kasusnya menyimpulkan bahwa tidur adalah kebutuhan biologis mutlak yang tidak bisa ditunda tanpa konsekuensi serius.
Beberapa tahun kemudian, ada orang lain seperti Maureen Weston dari Inggris yang dikabarkan mampu bertahan tidak tidur selama 18 hari dalam sebuah acara amal. Namun, Guinness World Records akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengakui kategori terlama tidak tidur karena terlalu berisiko bagi kesehatan. Penelitian medis modern juga mengonfirmasi bahwa kurang tidur ekstrem dapat memicu halusinasi berat, tekanan darah tinggi, gangguan otak, bahkan kematian dalam kasus ekstrem.
Eksperimen Randy Gardner kemudian menjadi bahan penelitian di dunia neurosains dan psikologi tidur. Para ilmuwan menemukan bahwa tidur berfungsi memperbaiki sel otak, menstabilkan hormon, memperkuat daya ingat, dan menjaga kesehatan mental. Kurang tidur bukan hanya membuat seseorang mengantuk, tapi juga bisa menyebabkan penurunan imunitas, stres kronis, obesitas, serta risiko penyakit jantung.
Kini, kisah Randy Gardner menjadi pengingat penting bahwa tidur bukan tanda kelemahan, melainkan kebutuhan vital untuk kelangsungan hidup manusia. Apa yang dilakukan Gardner memang fenomenal, tapi juga menjadi bukti bahwa tubuh manusia punya batas yang tidak bisa dilawan. Tidur cukup 7 hingga 8 jam per malam jauh lebih bermanfaat dibanding memaksa tubuh menahan kantuk demi rekor.
Rekor dunia terlama tidak tidur yang dicapai oleh Randy Gardner tetap menjadi salah satu eksperimen paling ekstrem dalam sejarah manusia. Bukan karena keberhasilannya bertahan, tetapi karena eksperimen ini menegaskan satu hal: tanpa tidur, manusia akan kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya sendiri. *
Pada hari ketujuh, efek kurang tidur mulai mengerikan. Randy mulai berhalusinasi, sulit berbicara dengan jelas, dan sering lupa dengan hal-hal sederhana yang baru saja ia lakukan. Saat mendekati akhir eksperimen, tubuhnya terlihat sangat lemah dan pikirannya kacau. Namun setelah eksperimen selesai, ia langsung tidur selama lebih dari 14 jam dan tidak mengalami kerusakan permanen. Walau begitu, para dokter yang meneliti kasusnya menyimpulkan bahwa tidur adalah kebutuhan biologis mutlak yang tidak bisa ditunda tanpa konsekuensi serius.
Beberapa tahun kemudian, ada orang lain seperti Maureen Weston dari Inggris yang dikabarkan mampu bertahan tidak tidur selama 18 hari dalam sebuah acara amal. Namun, Guinness World Records akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengakui kategori terlama tidak tidur karena terlalu berisiko bagi kesehatan. Penelitian medis modern juga mengonfirmasi bahwa kurang tidur ekstrem dapat memicu halusinasi berat, tekanan darah tinggi, gangguan otak, bahkan kematian dalam kasus ekstrem.
Eksperimen Randy Gardner kemudian menjadi bahan penelitian di dunia neurosains dan psikologi tidur. Para ilmuwan menemukan bahwa tidur berfungsi memperbaiki sel otak, menstabilkan hormon, memperkuat daya ingat, dan menjaga kesehatan mental. Kurang tidur bukan hanya membuat seseorang mengantuk, tapi juga bisa menyebabkan penurunan imunitas, stres kronis, obesitas, serta risiko penyakit jantung.
Kini, kisah Randy Gardner menjadi pengingat penting bahwa tidur bukan tanda kelemahan, melainkan kebutuhan vital untuk kelangsungan hidup manusia. Apa yang dilakukan Gardner memang fenomenal, tapi juga menjadi bukti bahwa tubuh manusia punya batas yang tidak bisa dilawan. Tidur cukup 7 hingga 8 jam per malam jauh lebih bermanfaat dibanding memaksa tubuh menahan kantuk demi rekor.
Rekor dunia terlama tidak tidur yang dicapai oleh Randy Gardner tetap menjadi salah satu eksperimen paling ekstrem dalam sejarah manusia. Bukan karena keberhasilannya bertahan, tetapi karena eksperimen ini menegaskan satu hal: tanpa tidur, manusia akan kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya sendiri. *
Related Content
Kasur pegas atau spring bed pertama kali ditemukan pada tahun 1871 oleh seorang penemu asal Jerman bernama Heinrich Westphal
31 Aug 2025
Panduan memilih kasur terbaik sesuai kebutuhan tidur Anda, lengkap dengan jenis, ukuran, tips memilih, dan rekomendasi beli di Bali.
4 May 2025
Pernyataan bahwa gula lebih berbahaya daripada HIV sempat ramai diperbincangkan di berbagai forum kesehatan dan media sosial.
20 Dec 2025



